desa pinter

menambah pinter desa pinter

Seluler Masuk Desa (3)

Posted by taufikrachman09 pada 11 Oktober 2009

Desain Lokal untuk Solusi Global

The quikest way to get out of proverty right now is to have one mobile telephone, Muhammad Yunus, Chairman Grameen Foundation

 

mp1

 

Investasi yang besar sebenarnya bukan satu-satunya barrier d alam penyediaan akses telekomunikasi di pedesaan. Investasi bisa ditekan  sedemikian rupa apabila terdapat teknologi yang mampu mengatasi berbagai kendala dan keterbatasan yang ada di pedesaan, seperti power atau link transmisi, termasuk kapasitas. Teknologi yang ada umumnya memiliki kapasitas yang besar dan dirancang untuk mengcover suatu area dengan populasi yang padat. Sementara di pedesaan, populasinya relatif kecil, sehingga teknologi yang ada menjadi tidak efisien dan menjadikan biaya investasi dan operasi tidak sebanding dengan revenue yang akan didapatkan. Biaya investasi dan operasi menjadi semakin besar, karena operator harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membangun dan mengoperasikan infrastruktur telekomunikasi di pedesaan. Operator harus megeluarkan biaya tambahan karena keterbatasan prasarana dasar di pedesaan. Untuk mengoperasikan infrastruktur telekomunikasi harus menggunakan diesel, tenaga surya atau tenaga angina yang notebene biayanya lebih mahal dibandingkan listrik. Untuk mendapatkan solar di pelosok, juga tidak mudah. Karena solar untuk genset masuk kategori solar untuk industri.

Bagi industri telekomunikasi sendiri, pedesaan adalah sebuah tantangan. Hampir semua vendor teknologi telekomunikasi terus mengembangkan inovasi-inovasi baru untuk memenuhi kebutuhan telekomunikasi masyarakat pedesaan. Di sisi lain, dikembangkan pula model-model bisnis yang baru untuk mendukung pengembangan telekomunikasi di pedesaan. Model waralaba—seperti dilakukan GrameenPhone di India dan sejumlah neara di Afrika–, sekadar sebuah solusi untuk menekan besaran investasi. Kalangan vendor teknologi sendiri juga semakin serius mengembangkan teknologi komunikasi untuk remote area dan kawasan pedesaan. Namun, berbagai teknologi yang tersedia belum tentu cocok ketika diintegrasikan pada sistem jaringan suatu operator, atau dinilai ideal dalam perspektif bisnis. Telkomsel , misalnya. Sebagai operator global system for mobile (GSM) untuk teknologi komunikasi pedesaan, tentu saja akan mengacu pada core network Telkomsel yakni GSM. Pilihan suatu teknologi juga mengacu pada roadmap teknologi. Karena Telkomsel tengah mengembangkan teknologi GSM Internet Protocol, tentu saja pilihan teknologi yang akan dikembangkan di pedesaan mengacu pada core network dan roadmap teknologi yang tengah dikembangkan Telkomsel.

Sejauh ini, belum ada teknologi yang secara spesifik bisa mensolusi kebutuhan komunikasi pedesaan Indonesia. Hal ini, rupanya telah menginisiasi Telkomsel untuk mengembangkan desain teknologi komunikasi pedesaan untuk memenuhi kebutuhan pedesaan di Indonesia. Di sisi lain, komitmen untuk menyediakan akses telekomunikasi hingga pelosok, sema IMG_8268kin mendorong Telkomsel melakukan serangkaian inovasi untuk menjawab berbagai tantangan yang berhubungan dengan telekomunikasi untuk pedesaan, yakni suatu teknologi yang tepat untuk pedesaan dan kawasan bahari di Indonesia, sesuai dengan core network dan roadmap teknologi, berbiaya murah (low cost), tepat guna dalam arti mampu menyesuaikan dengan berbagai keterbatasan yang ada di daerah sasaran, bisa dideployment dalam waktu cepat, pengoperasian dan perawatan mudah dilakukan.

Kalangan vendor teknologi telah lama melakukan pengkajian dan pengembangan teknologi komunikasi pedesaan. Solusi teknologi untuk komunikasi pedesaan yang ada umumnya menawarkan base transceiver station (BTS) mini atau BTS mikro. Konsep BTS Mini atau BTS Mikro dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan telekomunikasi pada satu wilayah dengan populasi kecil. Sekalipun dirancang untuk komunitas pedesaan, BTS Mikro atau BTS Mini umumnya membutuhkan energi listrik yang relatif besar. Kebutuhan listrik untuk BTS mini atau BTS mikro sekitar setengah atau seperempat BTS regular. Untuk BTS regular, energi listrik yang diperlukan sekitar 6000 KVA. Bukan hal yang gampang mendapatkan energi untuk pengoperasian BTS mini atau BTS mikro di pedesaan. Bila menggunakan energi pengganti seperti diesel, tentu saja membutuhkan biaya operasi yang besar. Sementara pengguna layanan ini di pedesaan diperkirakan tidak sebanding dengan kapasitas yang tersedia dan pada gilirannya biaya operasi dan perawatan yang dibutuhkan. Solusi lain adalah Pico BTS. Namun secara teknis, Pico BTS tidak lebih dari peranti untuk memperluas atau memperkuat sinyal, di area terbuka (outdoor). Peranti ini memang dikembangkan untuk memperluas atau memperkuat sinyal di kawasan terbuka terbatas, seperti hotel atau resor.

Pengkajian yang intens telah memberi banyak masukan berharga. Dari riset dan pengkajian Tim Teknologi Telkomsel, berhasil ditemukan tiga kata kunci yang harus diperhatikan untuk pengembangan desain solusi teknologi pedesaan, yakni power, transmisi dan BTS. Di sebagian besar desa belum tersentuh aliran listrik, andaikata teraliri listrik kapasitas yang terpasang terbatas dan tidak selalu menyala 24 jam. Jaringan serat optik di Indonesia juga masih terbatas, sehingga untuk memenuhi kebutuhan akses akan lebih banyak dimanfaatkan satelit. Memperhatikan situasi dan kondisi geografis di pedesaan, diperlukan desain BTS yang sesuai agar mudah di deployment. Dengan tiga kata kunci tersebut, tim teknologi Telkomsel melakukan pengkajian lebih mendalam peranti-peranti yang bisa dimanfaatkan dan memutuskan untuk mengembangkan desain solusi teknologi komunikasi pedesaan sendiri. Salah satu peranti yang dipilih adalah Pico BTS. Namun ada sejumlah keterbatasan pada perangkat ini. Untuk bisa dimanfaatkan sebagai pengganti BTS, perlu satu modifikasi. Tim Telkomsel dan Tim Teknologi ZTE kemudian melakukan modifikasi Pico BTS di Laboratorium ZTE di Beijing, agar peranti ini bisa difungsikan sebagai pengganti BTS untuk di deployment di pedesaan. Modifikasi perangkat sebesar Laptop ini meliputi power, signaling, kapasitas dan desain frekuensi. Setelah dilakukan modifikasi Pico BTS bisa difungsikan layaknya BTS Mini. Perangkat ini mendukung kebutuhan bandwith dibawah 1 E1, memiliki kapasitas panggilan mencapai delapan orang, serta memiliki coverage hingga 200 meter. Untuk mengoperasikan perangkat ini, tidak membutuhkan energi yang besar, hanya ratusan watt saja. Dengan demikian, banyak energi alternatif yang bisa dimanfaatkan untuk mendukung pengoperasian perangkat ini. Berhasil melakukan modifikasi Pico BTS, melempangkan jalan Tim Telkomsel mengembangkan desain teknologi komunikasi untuk pedesaan. Mengingat Pico BTS merupakan perangkat utama dalam desain yang tengah dikembangkan. Perangkat ini juga bisa diintegrasikan dalam sistem satelit dan jaringan Telkomsel, serta mendukung teknologi berbasis internet protocol. Teknologi internet protocol juga memberi kemudahan tim dalam penyediaan perangkat pendukung. Parabola untuk link ke satelit, cukup menggunakan parabola kecil yang biasa digunakan masyarakat untuk akses layanan televisi satelit.pico IP outdoor

Untuk pengoperasian perangkat ini, Tim Teknologi Telkomsel memiliki banyak pilihan. Pico BTS yang dimodifikasi hanya membutuhkan listrik 100 watt saja. Untuk keperluan operasi digunakan tiga sumber catu daya, yakni listrik, diesel dan sumber energi alternative seperti tenaga surya. Sekalipun listrik tersedia, Tim Teknologi Telkomsel merekomendasikan automatic power back up (APB) pada semua titik. Pertimbangannya, APB mampu beroperasi selama 12 jam. Sehingga bila terjadi pemadaman listrik atau gangguan pada diesel, perangkat masih tetap bisa dioperasikan. Solar Power Supply (SPS) atau listrik tenaga surya juga direkomendasikan sebagai sumber catu daya perangkat. Untuk kebutuhan listrik perangkat, diperlukan sekitar enam panel SPS. Dari sisi investasi, pemanfaatan tenaga surya untuk telekomunikasi dengan menggunakan enam panel SPS masih bisa ditoleransi. Dari serangkaian test bled yang dilakukan, Pico BTS yang telah dimodifikasi mendukung tidak saja layanan suara namun juga layanan data. Peranti ini mendukung jaringan berteknologi GPRS/EDGE. Artinya, bisa digunakan untuk layanan berbasis GPRS/EDGE, seperti MMS, download aplikasi berbasis JAVA hingga layanan data dengan kecepatan transfer hingga 512 Kpbs. Kecepatan transfer bisa ditingkatkan lagi, sehingga bisa dimanfaatkan untuk mendukung berbagai layanan berbasis video, seperti video call.

Desain solusi teknologi komunikasi ini kemudian diberi nama Telkomsel Merah Putih. Ujicoba pertama dilakukan di desa Balabalakan dan desa Sentosa. Saat dilakukan ujicoba, Telkomsel Merah Putih tidak hanya dimanfaatkan untuk layanan telefoni dasar seperti telepon dan SMS, namun juga bisa digunakan untuk video call. Selanjutnya melalui serangkaian inovasi, Pico BTS bisa ditingkatkan kapasitasnya menjadi 16 panggilan dengan coverage yang lebih luas lagi. Telkomsel Merah Putih kemudian diujicobakan di kapal laut yang tengah berlayar.Ujicoba pertama berlangsung di KMP Labobar, yang melayani rute Jakarta-Jayapura. Sukses di KMP Labobar, dikembangkan layanan serupa di dua kapal penumpang milik PT Pelni yang lain. Layanan seluler di kapal tidak saja meningkatkan layanan kepada pelanggan, namun kehadiran seluler juga ikut meningkatkan layanan kapal dimaksud. Tak berhenti pada Pico, Tim Teknologi Telkomsel juga berhasil mengembangkan desain solusi teknologi komunikasi untuk kawasan bahari dengan menggunakan Femto Cell yang setara dengan teknologi Wimax. Ujicoba berlangsung di KMP Jatra III yang tengah berlayar dari Merak-Bakauheni. Teknologi ini memungkinkan seluruh wilayah selat Sunda tercover layanan seluler Telkomsel, cukup dengan mengkoneksikan BTS di Merak dan Bakauheni dengan dukungan Femto Cell yang ada di kapal yang tengah bergerak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: