desa pinter

menambah pinter desa pinter

Seluler Masuk Desa (4)

Posted by taufikrachman09 pada 11 Oktober 2009

Desain Lokal Untuk Solusi Global

km1 

iDesain solusi teknologi Telkomsel Merah, cukup simpel dan sederhana. Memanfaatkan satelit sebagai link trasmisi, untuk   membangun satu site perangkat yang diperlukan adalah satu unit parabola berukuran sedang, modem VSAT, PICO BTS dan Automatic Power Suplly. Sesuai dengan roadmap teknologi yang tengah dikembangkan yakni GSM IP, akses satelit yang digunakan berbasis internet protocol dengan memanfaatkan VSAT. Dari sisi biaya, satelit IP lebih murah ketimbang satelit SPCC IDR atau satelit dedicated. Satelite IP juga hemat bandwith. Pada SPCC IDR, sewa satelit dihitung flat. Maksudnya, digunakan atau tidak tetap membayar sekitar 9.000 dolar AS. Pada satelit IP, pemakaian dihitung berdasarkan trafik yang digunakan. Selain murah dari sisi biaya, satelit IP hanya membutuhkan dukungan parabola berdiameter sedang, apabila menggunakan satelit berplatform TDM atau SCPC IDR, dibutuhkan antena parabola yang diameternya antara 4,7 meter hingga 9,3 meter. Parabola yang digunakan juga bukan parabola khusus, melainkan parabola yang biasa digunakan untuk menangkap sinyal televisi (regular) atau televisi berbayar.

Perangkat yang simpel juga mempengaruhi konsumsi daya. Untuk mengoperasikan perangkat ini, hanya diperlukan listrik ratusan watt saja. Oleh karena itu, tersedia banyak pilihan apabila di satu daerah belum terjangkau aliran listrik, seperti genset dengan daya sekitar 5 KVA atau tenaga surya. Untuk energi listrik di Balabalakan, misalnya, Telkomsel Merah Putih menggunakan enam panel tenaga surya—masing-masing panel berukuran 80×120 sentimeter. Energi yang dihasilkan selain dimanfaatkan untuk pengoperasian perangkat, sebagian bisa digunakan untuk penerangan dan pompa air listrik. Di Balabalakan—berada di sebuah pulau dengan panjang sekitar 400 meter dan lebar 90 meter, perangkat yang terpasang (satu Pico BTS) mampu menjangkau hampir separuh pulau. Secara teknis, bisa dilakukan perluasan coverage dengan menambah antenna Yagi atau repetear. Satu unit Pico BTS memiliki kapasitas hingga delapan panggilan. Bisa dimanfaatkan untuk komunikasi suara, pesan singkat dan akses internet dengan kecepatan antara 80 Kpbs hingga 100 Kpbs.

Dari sisi teknologi maupun investasi, Telkomsel Merah Putih, telah memberikan satu solusi untuk komunikasi pedesaan di Indonesia yang memiliki struktur geografis yang khas, miskin infrastruktur dan link transmisi. Desain yang sama, tentu saja bisa diterapkan pada desa-desa yang menjadi sasaran program USO 2008, baik yang berlokasi di daratan, pegunungan termasuk kawasan bahari. Desain teknologi pada Telkomsel Merah Putih bisa diintegrasikan dengan sistem jaringan Telkomsel, sehingga mendukung interoperability dan interkoneksi dengan jaringan lain. Teknologi ini bekerja pada jaringan seluler, dengan demikian secara teknis semua perangkat yang mendukung GSM bisa dimanfaatkan untuk berkomunikasi dan melakukan km2akses internet. Sekaligus memberi kemudahan dalam penyediaan perangkat untuk berkomunikasi dan melakukan akses internet. Ponsel GSM baru maupun bekas, mudah diperoleh dengan harga yang semakin terjangaku. Perangkat pengakses modem, juga mudah diperoleh. Teknologi seluler memungkinkan pengguna melakukan akses internet  statik maupun mobile. Sementara perawatan dan pemeliharaan infrastruktur bisa dilakukan oleh tenaga setempat yang berpendidikan sekolah menengah atas atau sekolah menengah kejuruan, setelah mendapatkan pelatihan singkat.

Deployment Telkomsel Merah Putih juga tidak membutuhkan investasi yang besar untuk membangun satu site standar—dengan sumber energi listrik yang menyala 24 jam penuh, atau dengan menggunakan diesel KVA. Investasi untuk satu site relatif murah. Investasi yang relatif besar diperlukan apabila menggunakan sumber energi tenaga matahari. Untuk satu site, dibutuhkan sekitar enam panel tenaga surya. Satu panel surya harganya belasan juta per panel. Infrastruktur Telkomsel Merah Putih juga tidak membutuhkan lahan yang luas. Untuk outdoor hanya diperlukan space untuk parabola, panel tenaga surya, diesel dan satu box untuk menyimpan APB. Perangkat lain, seperti modem VSAT, Pico BTS dan Fixed Wireless Telephony disimpan di dalam ruangan.

Memperhatikan kapasitas satu unit Pico BTS, Telkomsel Merah Putih mampu memenuhi kebutuhan minimal akses telekomunikasi di pedesaan, serta dukungan bagi akses internet berkecepatan rendah. Kapasitas 18 panggilan cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan telekomunikasi di pedesaan. Sekitar 25 persen dari kapasitas yang tersedia bisa dimanfaatkan untuk pengembangan wartel dan warnet, sisanya dimanfaatkan untuk warga yang memiliki telepon seluler. Bilamana kapasitas yang tersedia tidak mencukupi, atau diperlukan perluasan layanan, secara teknis hal ini bisa dilakukan. Misalnya dengan membangun site baru, atau memperluas coverage dengan menambah antenna atau repetear, termasuk penambahan Pico BTS. Bilamana diperlukan kapasitas transfer data yang lebih besar lagi, juga telah tersedia perangkat yang dibutuhkan. Untuk layanan isi ulang Telkomsel Merah Putih lahir dari suatu kebutuhan memberikan pelayanan kepada masyarakat pedesaan di Indonesia, yang belum terjangkau akses telekomunikasi karena kendala teknis, kondisi geografis, serta berbagai keterbatasan yang ada di pedesaan itu sendiri.[1] Dalam ranah industri telekomunikasi, memang banyak teknologi yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan telekomunikasi masyarakat pedesaan di Indonesia. Namun dalam praktik, teknologi yang tersedia belum tentu bisa di deployment, karena ada keterbatasan yang berhubungan dengan sumber daya listrik, link transmisi dan akses menuju desa bersangkutan. Sekadar ilustrasi, untuk membawa logistic untuk infrastruktur telekomunikasi standar ke sebuah pulau Pulau Sabakatang, yang berlokasi di Selat Makassar, tentu saja membutuhkan treatment khusus. Untuk mengangkut besi yang akan digunakan untuk menara BTS atau perangkat lain seperti radio dan parabola, paling tidak dibutuhkan kapal yang memadai. Untuk mendapatkan kapal dimaksud, tidak mudah. Karena di pulau ini yang tersedia hanya kapal-kapal nelayan tradisional, baik yang terbuat dari kayu maupun fibre glass. Bila menggunakan kapal pengangkut barang berukuran besar, persoalan muncul tatkala kapal akan sandar untuk menurunkan muatan. Dermaga di Balabalakan dirancang untuk kapal nelayan. Kapal Patroli TNI-AL kelas 28 meter, misalnya, tidak bisa sandar di dermaga. Kapal angkutan barang berukuran besar, tentu saja harus sandar di tengah laut.

Andaikata masalah logistik teratasi, persoalan berikut yang harus diselesaikan adalah kebutuhan energi untuk mengoperasikan infrastruktur tersebut. Balabalakan belum terjangkau listrik. Alternatif yang dimungkinkan adalah memanfaatkan diesel atau tenaga surya. Bila menggunakan tenaga surya, untuk memenuhi kebutuhan listrik 15 KVA hingga 26 KVA diperlukan ratusan panel tenaga surya. Satu panel berukuran sekitar 80×120 Cm. Butuh lahan khusus untuk pemasangan panel tenaga surya. Harga panel tenaga surya, boleh jadi setara dengan biaya keseluruhan untuk satu site BTS—termasuk radio dan perangkat lain. Andaikata menggunakan diesel, pertayaan berikutnya adalah dimana mendapatkan solar dalam jumlah besar secara rutin? Taruhlah dalam satu bulan membutuhkan solar antara 5.000 hingga 10 ribu liter. Untuk memenuhi kebutuhan solar saja, harus berjuang ekstra keras. Tidak kalah menariknya adalah, apakah perangkat standar dimaksud sesuai dengan kebutukm3han di sebuah desa berpenduduk sekitar 3.500 jiwa.

Telkomsel Merah Putih tidak saja menyediakan akses bagi masyarakat di desa terpencil atau terisolir, namun juga memperluas segmentasi pengguna layanan seluler di Indonesia. Layanan ini bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Apalagi struktur tarif sekarang semakin terjangkau, perangkat yang digunakan untuk berkomunikasi banyak tersedia di pasaran dengan harga yang terjangkau pula. Kontinuitas pelayanan juga akan terjaga. Di sejumlah desa yang telah menikmati layanan Telkomsel Merah Putih, untuk mendapatkan kartu perdana tidak sulit, isi ulang pulsa bisa dilakukan dimana saja. Di daerah terpencil, isi ulang pulsa bisa dilakukan dengan menggunakan layanan isi pulsa elektronik. Bagi penduduk yang tidak memiliki telepon seluler, mereka bisa memanfaatkan layanan di warung seluler.

Desain teknologi komunikasi pedesaan Telkomsel Merah Putih, belakangan menarik perhatian dunia. Sejumlah kalangan menyebut Telkomsel Merah Putih berpotensi menjadi benchmark bagi solusi telekomunikasi pedesaan global. Karena dalam tataran teknis maupun operasional, ia mampu mengatasi berbagai kendala dan keterbatasan yang ada di pedesaan. Telkomsel Merah Putih bukan sekadar solusi teknologi komunikasi pedesaan, namun juga sebuah desain operasi, pelayanan, hingga pemeliharaan. Kondisi dan situasi pedesaan di berbagai negara berkembang atau negara miskin tak berbeda jauh dengan kondisi dan situasi di pedesaan Indonesia, sehingga solusi yang sama bisa diimplementasikan di lokasi yang berbeda dengan karakteristik yang relatif sama. Salah satu negara yang berminat dengan Telkomsel Merah Putih adalah Filipina. Dalam batas-batas tertentu, situasi dan kondisi pedesaan di Filipina tidak berbeda jauh dengan pedesaan di Indonesia.


[1] Wawancara dengan Kiskenda, 2 Agustus 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: