desa pinter

menambah pinter desa pinter

Seluler Masuk Desa (8)

Posted by taufikrachman09 pada 11 Oktober 2009

Milestone bagi Kebangkitan Bangsa

Telkomsel Merah Putih akan dikembangkan untuk pulau-pulau terluar, daerah pelosok dan kawasan bahari guna mendukung kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Sarwoto Atmosutarno, Direktur Utama Telkomsel

Instalasi Perangkat GSM Pico berbasis IP 

Penetapan Telkomsel sebagai pemenang tender USO 2008, telah memberikan satu harapan baru bahwa akselerasi penyediaan akses telekomunikasi dan informatika melalui program USO akan terwujud sesuai rencana. Setidaknya bila dikaitkan dengan reputasi, kemampuan, pengalaman, dukungan pembiayaan dan komitmen Telkomsel dalam menyediakan akses telekomunikasi hingga pelosok, termasuk kawasan bahari. Bagi Telkomsel sendiri, USO bukan suatu proyek melainkan investasi dan menjadi bagian dari pengembangan layanan dan jaringan dari penyelenggara telekomunikasi yang ditetapkan sebagai pemenang tender. Karena itu, untuk program USO 2008, Telkomsel mengalokasikan dana pendukung dalam jumlah besar. Pada tahun pertama program ini, dialokasikan dana sekitar Rp 1 triliun yang berasal dari belanja modal Telkomsel Tahun 2009, terdiri dari Rp 600 miliar untuk mendukung biaya operasi dan Rp 600 miliar untuk mendukung biaya pemeliharaan, karena nilai kontrak sekitar Rp 1,6 triliun dinilai tidak mencukupi kebutuhan.[1] Telkomsel juga berencana mengalokasikan dana untuk mendukung kegiatan operasi dan pemeliharaan selama masa kontrak, yakni lima tahun.

USO dalam batas-batas tertentu in line dengan program Telkomsel Merah Putih yang dirintis Telkomsel pada Mei 2008. Telkomsel Merah Putih sendiri adalah singkatan Telkomsel menembus daerah pedesaan (termasuk daerah wisata dan resort), industri terpencil (seperti pengeboran lepas pantai, hutan dan puncak bukit), serta kawasan bahari. Pengembangan akses seluler ke pedesaan merupakan kelanjutan dari program penyediaan layanan untuk Ibukota Kecamatan (Program IKC) Telkomsel yang dikembangkan sejak tahun 2005 dan diperkirakan tuntas pada akhir tahun 2008. Setelah seluruh di ibukota kecamatan terjangkau akses Telkomsel, layanan diperluas ke pedesaan. Program yang sama dikembangkan untuk melayani industri di daerah terpencil, misalnya perkebunan dan pengeboran minyak lepas pantai, kawasan wisata dan resot, serta pelayanan untuk kawasan Bahari dengan menyediakan akses seluler di kapal. Telkomsel Merah Putih bukan program khusus Telkomsel, karena untuk pengembangan program ini menggunakan belanja modal regular Telkomsel[2]. Program ini telah disiapkan Telkomsel sejak awal tahun 2007 dan menjadi rencana kerja perseroan untuk tahun 2008-2010. Pada program Telkomsel Merah Putih, Telkomsel berencana membangun akses pada 13 ribu titik dalam waktu sekitar empat tahun. Tahun pertama, akan dibangun 3.000 titik, berikutnya dibangun 10 ribu titik.

Sekalipun telah menenangkan tender USO, komitmen Telkomsel untuk menyediakan akses telekomunikasi hingga pelosok Tanah Air tidak akan surut. Direktur Utama Telkomsel, Sarwoto Atmosutarno mengungkapkan bahwa Telkomsel akan tetap melanjutkan program Telkomsel Merah Putih. Hanya saja sasaran atau target produk ini lebih spesifik lagi, yakni daerah pelosok, pulau-pulau terluar dan kawasan bahari. Ketersediaan akses telekomunikasi di daerah sasaran—utamanya pulau pulau terluar–, diharapkan mampu memberi kontribusi bagi tegaknya kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sementara itu, desa-desa yang sebelumnya menjadi sasaran program Telkomsel Merah Putih namun masuk dalam kategori wilayah pelayanan universal telekomunikasi, penyediaan akses telekomunikasi di desa bersangkutan melalui program USO 2008. Ini berarti program USO akan berjalan beriringan dengan program Telkomsel Merah Putih. Hal ini juga berarti akan semakin banyak lagi wilayah terpencil atau terisoloir yang bakal terjangkau akses telekomunikasi dan informatika. Telkomsel, melalui program Telkomsel Merah Putih, telah membangun fasilitas telekomunikasi lebih dari 600 titik yang tersebar di pedesaan, daerah terpencil, daerah perbatasan, pulau terluar dan ibukota kecamatan. Pembangunan ini berlangsung dalam waktu sekitar enam bulan.

IMG_8211

Untuk program USO sendiri, Telkomsel optimistis akan mampu menyelesaikan pembangunan infrastruktur telekomunikasi dan informatika pada 24.056 desa selambat-lambatnya akhir tahun 2009 sesuai dengan kontrak. Telkomsel telah melakukan identifikasi desa-desa yang belum terjangkau akses telekomunikasi dan secara teknis telah mengenal situasi dan kondisi dari desa-desa yang akan menjadi sasaran program ini. Identifikasi dan pemahaman kondisi di lapangan, tentu saja akan memudahkan operator ini dalam deployment infrastruktur yang efektif dan efisien. Telkomsel juga telah mengembangkan desain teknologi komunikasi pedesaan yang telah diujicoba di ratusan titik. Desain teknologi dimaksud sesuai dengan situasi dan kondisi pedesaan di Indonesia, serta bisa bisa dideployment dalam waktu yang cepat dan masif. Saat mengikuti prakualifikasi, Telkomsel mengajukan desain teknologi komunikasi pedesaan yang dikembangkan sendiri untuk memenuhi kebutuhan komunikasi di remote area. Karena dirancang untuk memenuhi kebutuhan di Indonesia, desain yang dikembangkan pada dasarnya telah memperhitungkan berbagai kendala serta keterbatasan yang ada. Ini, barangkali, kelebihan Telkomsel dibandingkan dengan peserta tender lain, yang umumnya mengadopsi teknologi yang dikembangkan oleh vendor teknologi. Desain yang dikembangkan sejak awal tahun 2007 ini, hingga akhir tahun 2008 telah diimplementasikan di ratusan titik , baik di desa, ibukota kecamatan, termasuk diantaranya di tiga kapal milik PT Pelni, yakni KMP Labobar, KMP Kelud dan KMP Dempo. Di masing-masing titik, masyarakat bisa menikmati layanan seluler Telkomsel, dengan struktur tarif yang berlaku sama dengan pelanggan lain. Pengguna layanan bisa berkomunikasi, mengirim dam menerima pesan singkat, bahkan melakukan akses internet, layaknya pelanggan di kota-kota besar.

Dalam tataran deployment infrastruktur, memperhatikan pengalaman panjang Telkomsel menyediakan akses telekomunikasi di daerah perintis, diperkirakan tidak akan dijumpai hambatan berarti. Apalagi untuk deployment perangkat hanya dibutuhkan waktu sekitar dua jam saja. Telkomsel juga telah melakukan survei di lapangan dan melakukan identifikasi terhadap desa-desa yang akan menjadi sasaran program USO. Dari hasil pengkajian tim Telkomsel pada tahun 2007, dari sekitar 37 ribu desa yang belum terjangkau akses telekomunikasi, diperkirakan ada sekitar 13 ribu desa di Indonesia yang tidak terjangkau akses telekomunikasi (blank spot ). Sementara sekitar 24 ribu desa yang lain, telah terjangkau akses telekomunikasi dengan kategori sedang dan lemah. Berdasarkan hasil identifikasi desa-desa yang belum terjangkau akses telekomunikasi, tim Teknologi Telkomsel kemudian mengajukan rekomendasi solusi teknologi sebagai berikut[3]

  • Solusi teknologi pertama adalah solusi untuk desa yang tercover layanan seluler Telkomsel dengan coverage lemah. Untuk desa kategori ini akan dibangun repetear untuk memperkuat sinyal yang ada di desa bersangkutan.
  • Solusi teknologi kedua adalah solusi untuk desa yang tercover layanan seluler Telkomsel dengan coverage sedang. Ada banyak pilihan untuk mensolusi desa kategori ini, antara lain pemanfaatan antena Yagi.
  • Solusi teknologi ketiga adalah solusi untuk desa yang tidak ada coverage (blank spot). Solusi untuk desa kategori blank spot adalah remote solution system dengan memanfaatkan GSM Internet Protocol.

Bukan pekerjaan mudah membangun akses telekomunikasi secara massif pada 24.056 desa dalam waktu singkat. Memperhatikan jumlah desa yang menjadi sasaran program ini, tentu saja akan melibatkan banyak sumber daya manusia. Rupanya pengalaman panjang Telkomsel dalam pengembangan layanan telekomunikasi di Indonesia telah memberikan banyak inspirasi, bagaimana mengelola suatu system dan mekanisme kerja agar beban pekerjaan bisa diselesaikan tepat waktu dengan kualitas pekerjaan yang tetap terjaga. Untuk deployment infrastruktur telekomunikasi pada program USO, dikembangkan satu system manajemen integrative yang diberi nama Meidiana. Ia merupakan system manajemen berbasis pesan singkat (SMS) yang mampu memantau seluruh proses pekerjaan yang berhubungan dengan deployment infrastruktur telekomunikasi pedesaan pada semua titik. Mekanisme pelaporan melalui SMS kemudian diolah oleh system, sehingga mampu menampilkan gambaran riil progress pekerjaan. Mekanisme pelaporan ini juga mampu mendeteksi secara cepat kendala yang dihadapi di lapangan, sekaligus memberikan solusi apa yang diperlukan guna mengatasi masalah yang dihadapi.

P1030230

Pada system manajemen Meidiana, Telkomsel mengembangkan satu system identitas dengan menggunakan numerik dan alfabetis. Desa-desa yang akan menjadi sasaran program USO, misalnya, memiliki identitas berupa nomor. Hal yang sama diterapkan untuk solusi teknologi yang disiapkan. Misalnya solusi teknologi satu a (ST1A) untuk solusi teknologi pedesaan yang masuk kategori blank spot dan tidak memiliki aliran listrik. Pendekatan seperti ini akan memberi kemudahan pihak-pihak yang terkait dalam pembangunan infrastruktur telekomunikasi pedesaan. Identitas yang sama juga diterapkan kepada penanggung jawab program di tingkat provinsi, kabupaten/kota, kecamatan hingga petugas yang melakukan survey di lapangan dan melakukan instalasi perangkat. Sistem ini kemudian diintegrasikan dengan system logistik mitra-mitra Telkomsel yang menyediakan perangkat yang dibutuhkan, gudang Telkomsel di Jakarta serta depo yang tersebar di seluruh ibukota provinsi.

Sekadar ilustrasi, pembangunan infrastruktur telekomunikasi di desa Karang Rejo. Sebelum membangun infrastruktur, diterjunkan petugas untuk melakukan survei di lapangan. Hasil survey kemudian dilaporkan ke penanggungjawab program di Jakarta. Laporan serupa juga akan diterima dari para petugas survey lapangan yang lain. Yang dilaporkan petugas survey adalah identitas desa dan solusi teknologi yang dibutuhkan. Misalnya 1234567 (identitas desa) spasi ST2A. Berdasar laporan itulah kemudian ditetapkan siapa petugas yang akan melakukan instalasi, serta perangkat yang diperlukan. Dari pendekatan seperti akan bisa diketahui kapan barang harus dikirimkan dan diperkirakan akan sampai di sasaran. Seluruh aktivitas bisa dimonitor secara real time. Dari hasil monitoring tadi bisa diketahui apakah barang yang dibutuhkan sudah sampai, petugas telah melakukan instalasi nfrastruktur, serta apakah infrastruktur telekomunikasi bersangkutan sudah bisa dioperasikan.

Apabila barang yang dibutuhkan belum sampai ke sasaran, bisa diketahui sejak dini, sekaligus diketahui di titik mana kendala itu timbul. Bila dijumpai masalah seperti ini, akan dikirimkan pesan singkat agar pihak terkait segera mengirimkan barang yang dibutuhkan. Tim monitoring juga bisa melakukan deteksi aktivitas di lapangan. Misalnya barang sudah sampai ke desa sasaran, namun dalam kurun waktu tertentu belum di instalasi. Tim monitoring akan mengirim pesan kepada petugas. Dari komunikasi antara petugas lapangan dengan tim monitoring, akan terungkap dengan apa masalah yang dihadapi serta bagaimana mensolusi masalah dimaksud. Sistem manajemen yang dikembangkan juga mampu menampilkan data produktivitas para petugas di lapangan. Hal ini, tentu saja akan memudahkan Telkomsel dalam menetapkan berapa sumber daya yang diperlukan agar target waktu yang dibebankan pemerintah bisa dicapai. Maksudnya, apabila untuk penyelesaian 100 titik diperlukan 50 orang dalam satu hari kerja, dalam enam hari kerja 50 orang pekerja akan mampu menginstalasi 600 titik. Untuk seluruh desa USO tentu saja bisa diprediksi berapa jumlah sumber daya yang diperlukan.

Lebih dari sekadar evaluasi kinerja sumber daya yang dilibatkan, sistem manajemen yang dikembangkan juga bisa menjadi semacam talent scouting bagi Tim USO Telkomsel untuk merekrut sumber daya manusia yang akan dilibatkan dalam pemeliharaan jaringan di desa-desa USO. Petugas yang melakukan instalasi jaringan pada dasarnya disiapkan sebagai petugas untuk pemeliharaan jaringan dimaksud. Sistem yang dikembangkan sekaligus akan bisa memberikan gambaran apakah petugas instalasi jaringan memenuhi persyaratan teknis maupun non teknis untuk dikontrak sebagai petugas maintenance jaringan. Di atas kertas, Telkomsel akan mampu menyelesaikan pekerjaan menyediakan akses telekomunikasi dan informasi di 24.056 desa. Kehadiran layanan telekomunikasi dan informatika di seluruh desa akan menjadi semacam milestone bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa. Sepanjang fasilitas telekomunikasi dan informatika dimanfaatkan masyarakat secara optimal. Pertanyaanya kemudian, apakah fasilitas telekomunikasi dan informatika dimanfaatkan masyarakat pedesaan. Atau hanya dimanfaatkan kalangan terbatas sebagaimana terjadi pada USO 2003 dan 2004?


[1] Wawancara dengan Kiskenda Suriahardja, Jakarta, 7 Januari 2008. Saat wawancara Kiskenda menjabat sebagai Direktur Utama Telkomsel. Kiskenda mengakhiri jabatan pada 16 Januari 2009 digantikan Sarwoto Atmosutarno.

[2] Wawancara dengan Kiskenda Suriahardja, 2 Agustus 2008.

[3] Wawancara dengan Fajar, anggota Tim Teknologi Telkomsel Merah Putih, Jakarta, 16 Juli 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: