desa pinter

menambah pinter desa pinter

Seluler Masuk Desa (9)

Posted by taufikrachman09 pada 11 Oktober 2009

Satu Akses Untuk Satu Desa

Mobile technologies are the most powerful tools we have for combating extreme poverty in the most isolated parts of the world, Jeffrey Sachs, Director of the Earth Institute

 _MG_2966

Program USO pada dasarnya adalah akselerasi pembangunan infrastruktur telekomunikasi dii pedesaan yang belum terjangkau akses telekomunikasi dan informatika. Sebagaimana program USO yang pernah dikembangkan sebelumnya, pada program USO 2008 orientas utama program adalah penyediaan akses telekomunikasi untuk memenuhi kebutuhan komunikasi komunal atau kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu accesability atau ketersediaan akses telekomunikasi menjadi sasaran utama pemerintah pada program ini. Dalam hal ini, pemerintah menetapkan pada masing masing desa USO minimal memiliki satu akses telekomunikasi (satu desa satu akses). Selain akses telekomunikasi minimal satu akses untuk setiap desa, pemerintah melalui Surat Keputusan Dirjen Postel menetapkan tiga desa–untuk masing-masing provinsi–, sebagai desa yang memiliki fasilitas internet atau desa pinter. Dengan demikian, selain membangun akses telekomunikasi, pemenang tender juga diwajibkan menyediakan akses untuk layanan internet beserta fasilitas pendukungnya seperti komputer dan server di desa pinter.

Untuk paket yang dimenangkan Telkomsel, terdapat sekitar 70 desa yang akan mendapatkan fasilitas tambahan berupa layanan internet. Desa-desa ini sekaligus menjadi semacam pilot project untuk pe ngembang an Desa Pinter. Desa Pinter sendiri merupakan program penyediaan akses telematika di pedesaan dan merupakan kelanjutan dari program desa berdering. Program berdering ditargetkan pemerintah tuntas tahun 2009, sementara Desa Pinter tahun 2015. Bagi pemerintah tersedianya satu akses di satu desa untuk memenuhi kebutuhan komunal dengan harga terjangkau dianggap memadai27. Pertimbangannya, investasi untuk pembangunan infrastruktur telekomunikasi di pedesaan sangat tinggi. Alo kasi biaya yang tersedia untuk pembangunan infrastruktur telekomunikasi melalui program USO 2008 belum sepenuhnya mampu mengcover seluruh kebutuhan untuk deployment, peng operasian dan pemeliharaan layanan. Tidak mengherankan apabila pemenang tender harus menyediakan dana pendukung –yang lebih besar dari nilai kontrak– untuk program USO 2008. Sekadar ilustrasi, Telkomsel pada tahun pertama menyediakan dana pendukung sekitar Rp 1 triliun untuk biaya operasi dan pemeliharaan. Tidak menutup kemungkinkan, alokasi dana yang besar juga akan disediakan untuk mendukung pengembangan program ini pada tahun-tahun berikutnya. Atas dasar itu, pemerintah tidak ingin membenani pemenang tender dengan persyaratan yang dinilai memberatkan.

Memperhatikan teknologi yang digunakan dalam penyediaan akses telekomunikasi di desa USO ( yang kontraknya dimenangkan Telkomsel ), secara teknis masing-masing desa sebenarnya telah bisa menikmati akses internet bergerak (mobile internet). Akses telekomunikasi yang disediakan pada dasarnya telah mendukung data ready. Mengingat teknologi GSM yang dikembangkan telah mendukung layanan internet berbasis GPRS/EDGE atau internet dengan kecepatan rendah. Dalam\ tataran teknis, perangkat yang di deployment bisa dikembangkan lagi kapasitas dan kemampuannya untuk mendukung layanan internet berkecepatan sedang hingga tinggi. Pico BTS yang digunakan untuk program Telkomsel Merah Putih, pada dasarnya adalah teknologi GSM yang mampu mendukung akses data dengan kecepatan hingga 512 KB. Perangkat yang sama bahkan telah mendukung layanan GSM generasi ketiga (3G). Saat peresmian program Telkomsel Merah Putih di desa Balabalakan, dilakukan panggilan video antara Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar yang berada di Balabalakan, dengan Menteri Komunikasi dan Informatika Muhammad Nuh yang berada di Jakarta. Panggilan video juga dilakukan kepala desa Balabalakan dengan kepala desa Sentosa yang berlokasi di bukit Malabar,Bandung. Teknologi yang sama juga mendukung layanan video conference antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan lima tokoh masyarakat di daerah terpencil dan pulau terluar.

Dibandingkan dengan program USO Tahun 2003 dan 2004 memang terdapat sejumlah perbedaan. Misalnya soal teknologi. Pada USO tahun 2003 dan 2004, terdapat paling tidak lima teknologi yang diimplementasikan yakni fixed line, radio point to point, portable fixed satellite, verry small aperture satelite dan code division multiple acces (CDMA). Bervariasinya teknologi yang digunakan telah menimbulkan persoalan tatkala layanan ini diimplementasikan di lapangan. Persoalan dimaksud antara lain adalah soal tarif. Sebagaimana terungkap dalam hasil auditBadan Pemeriksaan Keuangan Tahun 2005, ada perbedaan tarif antara satu desa USO dengan desa USO yang lain. Perbedaan tarif tersebut, patut diduga terjadi sebagai akibat adanya perbedaan

teknologi dalam program USO. Pada industri telekomunikasi, teknologi yang digunakan penyelenggara jaringan telekomunikasi seringkali terkait dengan lisensi yang penyelenggara jaringan yang bersangkutan. Apabila kita perhatian pemenang tender untuk pembangunan fasilitas USO tahun 2003 dan 2004, terungkap di sini bahwa Telkom selaku penyelenggara jaringan telekomunikasi memberlakukan tarif layanan sesuai dengan tarif layanan yang berlaku di Telkom. Pasifik Satelit Nusantara dan Citra Sari Makmur adalah penyelenggara jaringan satelit, oleh karena itu tarif yang diberlakukan di desa USO adalah tarif yang berlaku untuk layanan berbasis satelit. Hal sama terjadi pada layanan yang dikembangkan oleh Mandara Seluler Indonesia, tarif yang diberlakukan adalah tarif seluler.  IMG_8273

Pada tender USO 2008, pemerintah tidak melakukan pembatasan terhadap teknologi yang akan digunakan pada program ini. Dan menyatakan teknologi untuk program USO bersifat netral. Artinya, semua teknologi komunikasi pada dasarnya bisa digunakan untuk program USO. Namun demikian mempertimbang an waktu pengerjaan, pemerintah melakukan pembatasan terhadap peserta tender, yakni penyelenggara jaringan telekomunikasi atau konsorsium dimana dalam konsorsium dimaksud terdapat penyelenggara jaringan telekomunikasi. Agar kasus tarif yang berbeda-beda bahkan cenderung lebih mahal dibandingkan dengan tarif normal layanan seluler saat itu–, berulang pada USO tahun 2008, pemerintah memberlakukan tarif khusus dan berlaku secara nasional untuk desa USO. De ngan pendekatan ini diharapkan perbedaan teknologi atau pemenang tender, tidak akan mempengaruhi system atau struktur tarif yang ada di desa USO. Kebijakan mengenai tarif khusus di desa USO pada gilirannya juga memberikan satu gambaran bahwa pada program USO selain mengedepankan dimensi accesability atau ketersediaan akses telekomunikasi, juga dipertimbangkan aspek kemampuan masyarakat setempat dalam membayar biaya komunikasi atau affordability.

Yang menjadi pertanyaan kemudian, apakah teknologi GSM — teknologi yang baru pertama kali digunakan pada program USO, akan mampu mendukung tercapai sasaran yang ingin dicapai yakni accesability dan affordability layanan telekomunikasi untuk masyarakat pedesaan. Secara konseptual penyediaan akses telekomunikasi dan informatika di desa USO termasuk desa Pinter–, bertolak pada pendekatan komunal. Artinya, satu akses dimanfaatkan untuk seluruh masyarakat di desa bersangkutan. Pada program USO 2008, pemerintah juga tidak menetapkan model atau konsep layanan tertentu. Belajar dari kegagalan USO 2003 dan 2004 pemerintah hanya memberikan direction kepada pemenang tender, agar layanan yang tersedia bisa mengaatasi kendala-kendala sosiologis-psikologi berkait dengan pemanfaatan layanan dimaksud, agar akses yang tersedia bisa dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat setempat.

Apabila kita memperhatikan kebutuhan komunikasi secara umum, kebutuhan serupa juga akan dijumpai masyarakat di pedesaan. Respon masyarakat yang tinggi terhadap layanan telekomunikasi melalui program Telkomsel Merah Putih menggambarkan bahwa komunikasi merupakan kebutuhan dasar masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di daerah terpencil atau pulau-pulau terluar. Mengingat, Telkomsel Merah Putih dikembangkan untuk komunitas yang tinggal di remote area, seperti Rinding Allo di Sulawesi Selatan, Pulau Kisar di Maluku, Pulau Weh di Aceh. Sekalipun tinggal di lokasi-lokasi terpencil, masyarakat pada dasarnya telah mengenal layanan telekomunikasi dan telah puluhan tahun menunggu kehadiran layanan ini di tengah mereka. Sejauhmana tingkat kebutuhan masyarakat, apakah satu akses yang tersedia sudah memadai atau belum, akan diperoleh gambarannya setelah layanan tersedia. Oleh karena itu, model pelayanan yang akan dikembangkan, pada dasarnya akan ikut menentukan apakah konsep accesabi lity dan afforadability bisa berjalan dengan baik. Mengingat dari sisi teknologi tidalk dijumpai kendala teknis maupun sosial, sementara dari sisi tarif pemerintah telah menetapkan tarif dasar untuk layanan telekomunikasi di desa USO Tarif yang diberlakukan umumnya lebih murah dibandingkan tarif telekomunikasi reguler yang saat ini sangat murah. Sekadar ilustrasi biaya SMS di desa USO ditetapkan Rp 50 per SMS. Untuk model layanan, tidak ada penetapan. Apakah model layanan telekomunikasi USO akan dikembangkan mengacu pada model warung seluler atau menggunakan model lain seperti community acces point (CAP), diserahkan sepenuhnya kepada pemenang tender. Demikian pula dengan siapa yang akan mengelola layanan dimaksud, apakah akan dikelola langsung operator atau pengelolaan melalui mekanisme outsourcing, kerjasama dengan pemerintah, koperasi atau warga setempat, menjadi tanggungjawabpemenang tender. Prinsipnya, layanan yang tersedia bisa dimanfaatkan secara optimal oleh warga setempat.

Untuk program USO, Telkomsel berencana menyediakan dua fixed wireless acces di masing-masing desa. Perangkat ini telah mendukung layanan SMS. Satu satuan sambungan disiapkan untuk kebutuhan komunikasi ke luar (out going), satu sambungan lain dicadangkan untuk menerima panggilan ( in coming). FWT yang dialokasikan untuk menerima panggilan merupakan antisipasi terhadap kebutuhan komunikasi masyarakat setempat dengan keluarganya, misalnya dengan keluarganya yang tengah bekerja di luar negeri, dengan tarif murah dan terjangkau. Dalam hal ini, seseorang bisa mengirimkan SMS terlebih dahulu agar yang bersangkutan bisa dihubungi. Titik layanan USO akan melayani kebutuhan masyarakat seperti ini. Dengan pemisahan fungsi seperti ini, diharapkan kebutuhan komunikasi masyarakat setempat terpenuhi. Karena dengan membayar Rp 50, seseorang bisa berkomunikasi dengan keluarganya yang ada di luar negeri. Untuk desa dengan fasilitas internet, terdapat satuan sambungan tersendiri untuk akses internet. Dimungkinkan pada desa dengan akses internet disediakan lebih dari tiga satuan sambungan telepon.

Model layanan di desa USO yang akan dikembangkan Telkomsel, mengacu pada model yang akan dikembangkan mirip dengan model layanan pada program Telkomsel Merah Putih. Pada Telkomsel Merah Putih, dengan mempertimbangan keamanan perangkat layanan ditempatkan di rumah kepala desa atau balai desa. Di titik layanan komunal ini tersedia Dua fixed wireless telephony (FWT) untuk memenuhi kebutuhan komunikasi masyarakat yang tidak memiliki terminal sendiri. Bagi masyarakat yang telah memiliki ponsel sendiri, mereka bisa memanfaatkannya, karena pada Telkomsel Merah Putih tersedia kapasitas panggilan antara 8 hingga 16 panggilan, dengan daya jangkau sinyal mencapai radius 400-800 meter dari rumah kepala desa atau balai desa. Memperhatikan pola pengembangan layanan telekomunikasi Telkomsel, kapasitas dan coverage layanan umumnya disesuaikan dengan kebutuhan. Bila kapasitas 16 panggilan dinilai tidak memenuhi kebutuhan, akan ditambah. Tidak tertutup kemungkinan adanya pengembangan infrastruktur telekomunikasi untuk IMG_8283memenuhi kebutuhan riil masyarakat setempat.

Untuk desa USO, sesuai dengan kontrak, Telkomsel diwajibkan menyediakan sekurang-kurangnya satu akses untuk mendukung kebutuhan komunal. Teknologi yang diimplementasikan di desa USO pada dasarnya sama dengan teknologi yang diimplementasikan di desa-desa yang menjadi sasaran program Telkomsel Merah Putih. Pada masing-masing desa USO akan dikembangkan titik layanan berupa warung seluler, dengan melibatkan masyarakat setempat. Telkomsel sendiri telah menjalin kerja sama dengan Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) untuk mendukung pengembangan koperasi di Indonesia. Tidak tertutup kemungkinan pada desa-desa USO, Telkomsel akan menjalin kerja sama dengan koperasi setempat untuk pengoperasian layanan warung seluler, atau membentuk koperasi untuk pengelolaan layanan dimaksud.

Sebagaimana telah diulas di muka, kapasitas panggilan yangtersedia di desa USO pada dasarnya berlebih, karena dari kapasitas 8-16 panggilan yang dimanfaatkan baru 2 . Untuk des dengan akses internet, kapasitas yang dimanfaatkan antara 4 hingga 6 satuan sambungan. Kelebihan kapasitas panggilan yang tersedia di masing-masing desa USO pada gilirannya membuka peluang bagi Telkomsel untuk memanfaatkan kapasitas yang ada untuk mendukun kebutuhan komunikasi pelanggan yang tengah berada di desa USO. Pertimbangannya, infrastruktur yang dikembangkan Telkomsel pada dasarnya adalah teknologi GSM. Dengan demikian pelanggan Telkomsel yang tengah berada di desa USO bisa memanfaatkan sinyal yang ada untuk komunikasi sebagaimana layaknya komunikasi di desa USO. Di sisi lain kapasitas yang ada bisa dimanfaatkan setiap saat, apabila terjadi peningkatan kebutuhan di desa USO. Dengan demikian dari sisi teknologi, layanan maupun kapasitas yang tersedia, apa yang dikembangkan Telkomsel telah memenuhi sasaran accesability atau affordability yang diinginkan pemerintah melalui program USO.

Dengan memperhatikan kapasitas yang tersedia, bagaimana dengan pemanfaatan bagi penduduk setempat secara mandiri? Maksudnya, untuk kebutuhan komunikasi mereka me manfaatkan ponsel yang dimiliki dan tidak memanfaatkan layanan yang ada di CAP. Sejauh ini, Permenkominfo No 07 Tahun 2008 tidak mengatur tentang kelebihan kapasitas terpasang dimaksud. Pemerintah hanya mensyaratkan penyediaan satu akses untuk satu desa. Sejauh ini, Telkomsel menyediakan dua satuan sambungan untuk masing-masing desa USO. Pada desa dengan akses internet, akses ditambah untuk mendukung kebutuhan akses internet. Dengan kata lain, sebagai pemenang tender Telkomsel telah memenuhi kewajiban minimal penyediaan akse sesuai dengan kontrak. Bagaimana dengan kelebihan kapasitas yang ada? Apakah dibiarkan saja atau dimanfaatkan secara optimal.

Bilamana kita memperhatikan konsep dasar USO accesability dan afforadability, dua syarat itu telah dipenuhi Telkomsel. Dalam hal ini pada masing-masing desa telah tersedia akses telekomunikasi untuk mendukung kebutuhan komunal minimal satu akses untuk satu desa. Selanjutnya untuk tarif, Telkomsel memberlakukan tarif sesuai dengan ketentuan yang diatur pada Permenkominfo No 7 Tahun 2008. Sudah selayaknya apabila Telkomsel sebagai pengelola layanan USO juga diberi keleluasaan untuk memanfaatkan kelebihan akses untuk kebutuhan nonUSO. Keleluasaan ini, katakanlah menjadi semacam insentif bagi Telkomsel yang telah menyediakan akses telekomunikasi dan informatika di pedesaan. Dengan demikian ada dua model pendekatan yang bisa dikembangkan disini yakni layanan yang bersifat komunal dan personal. Untuk layanan yang bersifat komunal, komunikasi hanya bisa dilakukan di warung seluler atau warung internet, dengan menggunakan fixed wireless acces yang tersedia.. Untuk layanan komunal ini, biaya komunikasi merujuk pada tarif khusus yang diberlakukan di desa USO. Selanjutnya, untuk kebutuhan yang bersifat personal, masyarakat setempat berkomunikas menggunakan ponsel serta diberlakukan tarif umum.

Ketersediaan layanan yang bersifat komunal maupun personal di desa USO, secara tidak langsung akan menjadikan akses telekomunikasi dan informatika yang tersedia dimanfaatkan secara optimal. Dua pendekatan ini sekaligus sebagai antisipasi terbatasnya jam operasi layanan komunal. Untuk layanan komunal dimungkinkan hanya beroperasi delapan jam dalam satu hari. Keterbatasan jam operasi layanan telekomunikasi komunal tentu saja tidak menguntungkan. Karena tidak tertutup kemungkinan di luar jam operasi layanan komunal ada kebutuhan yang bersifat mendesak atau darurat. Bagaimana bila terjadi hal demikian? Dengan dimanfaatkannya kelebihan akses untuk kebutuhan personal, hal ini akan mengakomodasi kebutuhan kebutuhan mendesak atau darurat di luar jam operasi pelayanan komunal. Di sisi lain pemanfaatan kelebiha kapasitas untuk memenuhi kebutuhan personal menjadikan standar pelayanan telekomunikasi di desa USO sama dengan standar pelayanan Telkomsel secara umum. Hal ini menjadikan layanan di desa USO tidak berbeda dengan layanan di wilayah lain. Hal ini juga berarti kontinuitas layanan di desa USO akan terjaga.

Pendekatan dua model pelayanan–yakni komunal atau personal–, akan membuka kesempatan kerja dan kesempatan berusaha di desa USO. Pengembangan layanan komunal berupa warung seluler atau warung internet, secara tidak langsung telah membuka satu kesempatan berusaha dan kesempatan kerja. Ia akan menjadi satu unit bisnis. Pengembangan layanan personal di desa USO menjadi warung internet atau warung seluler bisa dikembangkan menjadi satu unit layanan yang tidak saja memenuhi kebutuhan komunikasi komunal, namun juga menyediakan berbagai kebutuhan pendukung komunikasi di desa bersangkutan, seperti penyediaan kartu perdana atau vocer isi ulang. Kehadiran unit bisnis seperti warung seluler atau warung internet juga ikut mendukung kontinuitas pelayanan komunal.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: